generasi nunduk..


Istilah ini sebenarnya sudah lebih populer sebelum saya mengangkat topik ini dalam tulisan random di blog saya. Terkait dengan tulisan sok intelek saya mengenai Homo interneticus sebelumnya, saya bisa menambahkan ciri fisik spesies Homo interneticus adalah mereka cenderung menunduk. Di jalan, di mall, di café, di kampus, di taman, atau di mana pun, mereka cenderung menunduk dengan gadget di tangan – terlebih lagi dengan sepasang penyumpal telinga sebagai pelindung dari suasana awkward di tempat umum.

Rutinitas generasi nunduk ini sangat dapat dipetakan. Ketika bangun tidur di pagi hari, mematikan alarm, kemudian membuka aplikasi Path untuk update awake. Setelah itu membuka Twitter untuk mengucapkan selamat pagi kepada followers-nya. Usai mandi, bergegas berangkat ke sekolah, kampus, atau kantor tidak lupa untuk update kondisi lalu lintas melalui Twitter. Setibanya di lokasi aktivitas, hal yang dilakukan pertama kali adalah check in Foursquare, berebut mendapatkan predikat mayor pada suatu venue. Ketika tiba waktu makan siang, tidak lupa check in Foursquare lagi di lunch venue, mengambil gambar menu makan siang dan di-share melalui Instagram atau Path. Terkadang tidak lupa juga untuk berfoto bersama partner makan siang, yang kemudian di-share di Facebook. Sepulang beraktivitas, Twitter kembali menjadi sarana meluangkan keluh kesah sehari-hari hingga kemudian tiba waktu tidur. Sebelum tidur, tidak lupa mengucapkan selamat malam kepada followers Twitter dan update sleep di Path. Begitulah rutinitas generasi nunduk sehari-hari.

Paradigma mengenai konsep anti-social behavior juga mulai menjadi ambigu. Orang yang anti-sosial di dunia maya belum tentu demikian di dunia nyata, begitu pula orang yang anti-sosial di dunia nyata malah bisa menjadi sosialita di dunia maya. Generasi nunduk memiliki kecenderungan lebih pada gadget-nya daripada harus memulai pembicaraan dengan orang lain di dunia nyata. Lihat saja di café, mall, atau tempat umum lainnya, kebanyakan generasi nunduk akan duduk bersama kawan-kawannya namun cenderung diam dan berkonsentrasi pada gadget masing-masing. Bahkan mereka berkomunikasi via BBM, Whatsapp, LINE, KakaoTalk, WeChat, atau aplikasi messenger lainnya meski lawan bicaranya sedang duduk di hadapan mereka. Miris ya?

Satu hal yang merupakan sisi positif dari perkembangan teknologi smartphone dan internet dengan berbagai aplikasi social media-nya adalah bahwa setiap individu saat ini sudah mulai menjadi content creator. Melalui materi yang mereka publish, masing-masing individu bersaing untuk mendapatkan attention dari masyarakat. Materi yang cenderung disukai adalah materi bertema humor atau skeptical jokes.

Dibalik kompetisi setiap individu untuk menjadi content creator, keminatan masyarakat Indonesia sebagai reader malah cenderung menurun. Hal ini melatarbelakangi lahirnya fenomena kultwit. Mana ada bangsa yang doyan kultwit selain Indonesia? 😛 Kembali pada konsep harfiah Twitter, Twitter adalah sebuah microblogging yang dibatasi hanya sejumlah 140 karakter. Ketika seorang individu mem-publish suatu informasi penting di Twitter melalui link, peluang followers-nya untuk membuka link tersebut ternyata sangat kecil dibandingkan jika informasi tersebut di-publish dengan metode kultwit. Masyarakat kita ogah repot membuka link melalui aplikasi browser lain hanya untuk sekedar mengetahui informasi pada suatu tweet. Sehingga demi tersampaikannya informasi tersebut, kultwit dipilih sebagai metode yang paling efektif untuk masyarakat kita. Miris, karena artinya minat baca masyarakat kita masih terbatas pada 140 karakter saja. 😐

Well, pada dasarnya perkembangan teknologi memang pasti akan membawa imbas yang signifikan pada budaya masyarakat. Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan media komunikasi manusia sudah tidak lagi berbentuk verbal. Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan manusia sudah tidak lagi memerlukan bahasa, dengan adanya perkembangan teknologi embedded system dan artificial intelligence sehingga masing-masing manusia sudah dapat mengetahui isi otak melalui transmisi informasi dari suatu chip implant yang dipasang di otak – mungkin. Perkembangan teknologi tersebut memang akan membawa dampak positif maupun negatif dan tata budaya masyarakat akan ikut berubah juga seiring dengan perkembangan zaman. We just have to be prepared for it. :mrgreen:

Advertisements

3 comments

  1. Alfan Nasrulloh · · Reply

    Bisa jadi nanti lama-lama interaksi manusia seperti digambarkan dalam film Wall-E, komunikasi lewat gadget, padahal sebelahan. Semua orang juga jadi obesitas karena dimanjakan sama teknologi.

    Sepertinya memang kita harus segera aware dan bersiap diri untuk menghadapi fenomena ini. Bersiap memanfaatkan yang baik, dan antisipasi untuk hal yang buruk.

    Cabang ilmu sosial dan hukum juga akan berkembang.

    Hmm, bagaimana dengan di desa?

    1. lambat laun mereka yg di desa juga bakal mengikuti perkembangan teknologi lah. cuma mungkin akan lebih lambat perkembangannya dibanding yang hidup di perkotaan. tapi pasti semuanya juga akan ikut berubah.

  2. ndhoel · · Reply

    Ngeblog di depat laptop itu nunduk gak? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: