introspeksi diri..


Pada suatu malam yang cerah, saya bersama dua orang teman dekat saya sejak semester awal kuliah mengadakan meet up, berhubung salah seorang peserta meet up itu sedang mudik dari Jakarta – ambil cuti untuk mengurus wisudanya. Seperti pertemuan kami biasanya, meet up itu selalu berujung pada curcol yang menghasilkan retorika kehidupan.

Pada pertemuan makhluk middle-yet-too-early 20’s seperti kami, topik yang paling menarik dibahas pastinya soal hubungan dengan lawan jenis. Sudah barang tentu yang dibahas bukan lagi soal strategi pacaran dan sebagainya, tapi soal pasangan hidup – calon istri atau calon suami. Satu hal penting yang tercetus dalam pembicaraan itu adalah mengenai bagaimana me-maintain suatu hubungan dengan baik dan orientasi pembicaraan kami ketika itu memang mengarah pada komitmen pernikahan. Jika terjadi suatu konflik dalam relationship, sesabar-sabarnya kedua pihak juga tidak bisa selalu berpikir dengan kepala dingin. Ada kalanya satu pihak emosinya lebih dominan, nah ketika itu pihak yang lain seharusnya bisa menempatkan diri untuk menjadi pihak yang bersikap lebih bijaksana. Sama halnya dengan konsep balanced relationship. Harus ada keseimbangan aksi-reaksi di antara keduanya, kan? Jika yang satu berbicara, yang lain harus mendengarkan dengan seksama, begitu juga jika yang satu emosi yang lainnya harus bisa menenangkan.

Ketika terjadi konflik, sebisa mungkin kita lah yang menjadi pihak pertama yang dapat berpikir dengan kepala dingin. Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk selalu mengerti dan memahami kita, kan? Yang dapat kita lakukan adalah menuntut diri kita sendiri untuk selalu in line. Ketika terjadi suatu konflik, upayakan bahwa kita adalah seseorang yang pertama kali mengucapkan kata maaf, terlepas siapa pun yang salah. Konflik yang terjadi itu secara tidak langsung pasti merupakan dampak kesalahan kita sebelumnya. Jadi daripada kita ikut emosi, lebih baik kita introspeksi diri, mengoreksi kembali tentang apa yang sudah kita perbuat sehingga dapat timbul permasalahan itu dalam hubungan kita. Rasulullah juga menganjurkan demikian agar umatnya memiliki kerendahan hati. Terlepas dari soal harga diri tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, lebih baik momentum minta maaf itu dijadikan upaya untuk introspeksi diri yang kemudian akan memberikan tendensi untuk introspeksi bersama. Kebisaaan menyalahkan orang lain tentu sangat mudah diterapkan dan memberikan kepuasan terhadap ego pribadi. Tapi jika kebisaaan itu terus menerus diwariskan, mau jadi apa kehidupan ini nantinya?

Seperti ketika anak kecil jatuh tersandung batu, biasanya orang dewasa menghibur untuk mendiamkan tangis mereka dengan menyalahkan si batu – dengan berkata, “Udah ya, cup cup. Batunya emang nakal!” sambil entah melempar atau memukuli si batu. Secara tidak sadar, kalimat demikian membangun ego anak tersebut sehingga ketika dewasa dia tidak akan mau mengakui bahwa dirinya bersalah dan cenderung menyalahkan orang lain pada setiap permasalahan yang dia hadapi.

Lain halnya jika ketika anak kecil tersebut jatuh, kita mengatakan “Nggak apa-apa kok. Makanya, harus hati-hati. Nanti kalau jalan pelan-pelan aja biar nggak jatuh lagi.” Mungkin memang akan jadi lebih lama mendiamkan tangisnya, tapi kalimat ini akan terekam dalam benaknya sehingga insyaaLlah ketika dewasa dia akan selalu introspeksi terhadap apa yang sudah dia perbuat ketika suatu permasalahan terjadi kepadanya.

Kesimpulannya, pada suatu permasalahan yang kita hadapi, mari kita coba untuk selalu menilainya dari kacamata kita dengan kepala dingin. Karena masalah juga tidak akan selesai dengan baik jika kita mengatasinya dengan emosional. Mari mencoba menilai dan menanggapi suatu permasalahan dengan metode deduksi terhadap apa yang sudah kita perbuat sebelum ini yang mengakibatkan masalah itu terjadi. Tulisan ini sekaligus reminder buat saya, agar selalu mau mengintrospeksi diri ketika saya menghadapi permasalahan, tidak hanya mengenai konflik relationship saja tetapi juga setiap permasalahan apapun yang terjadi dalam kehidupan.

Semoga kita bisa selalu menjadi pribadi yang bersikap bijaksana dan bisa menerapkan paradigma positif terhadap watak anak-anak dari generasi kita selanjutnya, sehingga dunia ini akan berubah menjadi lebih baik dan lebih damai nantinya. Aamiin! :mrgreen:

Advertisements

2 comments

  1. introspeksi adalah bagian dari sabar, dan sabar adalah pelajaran seumur hidup.

    Salam kenal 🙂

    1. salam kenal juga mas 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: