proposal..


Saya habis membaca sebuah buku berjudul unik yang saya temukan di salah satu sudut rak buku psikologi Islami di toko buku. Niatnya mau dibeli sih, tapi berhubung bulan ini sedang mengalami krisis keuangan, saya cuma bisa membaca bukunya di te-ka-pe – untung plastiknya udah dibuka. Judul bukunya Jangan Bodoh Mencari Jodoh. Authornya seumuran sih sama saya – namanya Brili Agung Zaky Pradika, kelahiran sembilan puluh juga. Berikut penampakan bukunya.

jbmj

Di buku ini dibahas mengenai kiat-kiat persiapan pribadi untuk mencari dan menjemput jodoh. Dalam buku ini ditegaskan bahwa jodoh itu tidak hanya diminta, tapi dicari dan juga dijemput. Bagaimana cara mencarinya? Cara mencari jodoh adalah dengan kita menjalin silaturahmi, dengan siapapun itu – karena toh kita juga tidak tahu jodoh kita nanti siapa dan bertemunya dimana. Sedangkan cara menjemput jodoh adalah dengan kita memantaskan diri.

Pada bab kesekian dalam buku ini – Jangan Bodoh Mencari Jodoh 2 yang merupakan sekuel dari bab sebelumnya, terdapat tulisan mengenai pembuatan proposal (pendamping) hidup. Awalnya saya kira proposal itu adalah suatu bentuk tulisan lamaran untuk objek khusus yang sudah ditentukan variabel namanya. Dalam sepuluh tahun terakhir kehidupan saya, saya sudah membuat ratusan proposal, mulai dari proposal kegiatan, proposal penelitian, hingga proposal taaruf. Namun ternyata pengalaman saya soal proposal-proposal ini membuat saya lupa pada hakikat proposal hidup yang sebenarnya.

Selama ini, proposal yang saya buat adalah proposal yang bertujuan untuk menciptakan impression yang menarik pada pihak sponsor sebagai target tujuan proposal. Semua proposal yang saya buat berisi detail latar belakang, tujuan, manfaat, anggaran, dan prosedur kegiatan yang terperinci, untuk bisa meng-impress pihak sponsor sehingga dia mau mengabulkan isi proposal saya – yang saya buat itu proposal untuk manusia. Itu kalau proposal kegiatan. Kalau yang dibahas disini adalah proposal hidup? Siapa lagi sponsor utama yang bisa mengabulkan keinginan kita selain Allah SWT?

Proposal hidup dalam hal ini berisi daftar keinginan kita tentang kriteria kehidupan yang kita inginkan di masa depan. Kalau ingin lebih mengerucut yaa, bisa juga dibatasi pada sub proposal pendamping hidup. Intinya, proposal ini berisi daftar harapan-harapan kita, yang nantinya akan diajukan kepada Allah. Tuliskan proposal ini pada suatu media yang dapat dengan mudah dibaca kapan pun.

Sama halnya dengan proses penyelenggaraan kegiatan, setelah membuat proposal, kita menyebar tim untuk melakukan penggalangan dana, permohonan izin, publikasi, dan segala tetek bengeknya. Untuk bisa memberikan kesan profesional kepada pihak sponsor, kita akan melakukan berbagai cara yang menciptakan kesan bahwa kita pantas mendapatkan dukungan dari pihak sponsor, kan? – Salah satunya dengan memberikan kontra prestasi tertentu.

Misalnya kita ingin punya pasangan yang rajin sholat, rajin mengaji, hafal surah ini-itu, kemudian kita refleksikan pada diri kita sendiri. Sudahkah kita sesuai dengan kriteria demikian? Sudah merupakan rahasia umum bahwasanya lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya. Kalau ingin punya pasangan yang rajin sholat, rajin mengaji, ya kita juga harus memantaskan diri dengan rajin sholat dan rajin mengaji. Kalau kita ingin punya pasangan yang wajahnya ganteng atau cantik, suami yang perutnya six pack atau istri yang kakinya jenjang seperti artis korea, ya meskipun fisik yang pas-pasan tidak bisa lagi diubah, setidaknya kita juga harus mengupayakan diri untuk menjaga kebersihan diri, mengindahkan diri kita – dengan tidak berlebihan juga tentunya. Tulisan proposal itu sebaiknya ditulis pada media yang dapat dengan mudah dibaca kapanpun, sehingga kita dapat senantiasa merenung – merefleksikan kekurangan diri yang harus terus diperbaiki agar proposal kita dikabulkan. Kalau hal demikian dianggap sebagai wujud bab kontra prestasi pada proposal, cukup fair bukan?

Setelah membuat proposal hidup ini, kita lanjutkan usahanya dengan berdoa. Memohon kepada Allah agar isi proposal itu dikabulkan – setiap kali usai sholat, setiap berbuka puasa, setiap jeda antara adzan dan iqomah, dan setiap waktu doa yang ijabah. Dalam buku itu, dicontohkan kisah teman penulis yang menginginkan memiliki suami yang pandai bermain gitar dan hobi main futsal. Keinginannya itu terlintas ketika dia masih kecil dan setiap malam dia ceritakan kepada Ibunya. Bertahun-tahun kemudian ketika dia dewasa dan menikah, benar saja dia mendapatkan suami yang sesuai keinginannya – padahal keinginannya itu hanya diaminkan oleh Ibunya saja. Apalagi jika kita mengajukan permohonannya langsung kepada Allah yang Maha Baik, kita bacakan permohonan kita dalam setiap waktu perbincangan kita denganNya, insyaaLlah akan Dia kabulkan. Aamiin!

Nah, sekian informasi yang dapat saya bagikan hasil membaca buku siang tadi. :mrgreen:

Semoga bermanfaat dan selamat membuat proposal! 😉

Advertisements

7 comments

  1. Seumuran sama kamu? Sekitar kepala tiga dong ya? :p

    *melipir*

    1. hahahaha. anak ini minta diceburin ke kawah merapi kayaknya. 😐

  2. kamu pernah bikin proposal taaruf? 😮

    1. hahahahaha. mateng, langsung ditembak beginian. 😐
      information classified, dear. 😛
      kalo kita main bareng baru nanti cerita-cerita yaah. hihihi

      1. huahaha, abis itu sih yang mencolok, tulisan proposal taarufnya tiba2 jadi font 30 :p
        oke deeh, ayo main2 bulan depan :p

      2. hahahaha. padahal udah keselip sama kata benda yg lain kok ya masih keliatan juga. hahahaha. oke deh, insyaaLlah bulan depan hehe :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: