mengaji..


ALQURAN

Sedari kecil, orang tua saya sangat disiplin kepada saya untuk belajar mengaji, bahkan saya sudah dibiasakan mengaji ketika belum sekolah. Saya dulu sih nurut-nurut saja, ketika mengaji di TPQ dulu saya juga senang-senang saja, toh banyak juga teman mainnya. Alhamdulillah, berkat itu ketika kelas dua sekolah dasar, saya dipercaya sebagai salah satu kontingen sekolah untuk lomba tartil di tingkat provinsi – kalau tidak salah nama kegiatan itu adalah Festival Aku Anak Saleh. Saya awalnya sama sekali tidak menyadari jika saya punya potensi di bidang tarik suara mengaji dengan qira’ati (ceritanya pamer 😛 – tapi itu dulu sih 😐). Hingga kelas lima, saya masih selalu diikutsertakan dalam lomba tartil meski pada kenyataannya tidak pernah berhasil membawakan piala kebanggaan untuk sekolah. 😐

Soal mengaji, Papa adalah kiblat lelaki terkeren sepanjang masa hidup saya yang pernah saya kenal – kalau Rasulullah itu udah nggak pake nomor-nomoran lagi karena udah jelas ada pada top list idola selamanya. Suara Papa keren banget deh ketika mengaji tartil maupun qira’ati. Papa juga hafal beberapa surah dalam Al Quran. Bacaan Papa ketika mengimami sholat seringnya bikin merinding. Aduh, nyari lelaki keren kayak Papa gini di dunia masih ada nggak ya? (eh, kok salah fokus! – Well yeah, every girl marries her father.) Makanya Papa begitu strict kepada anaknya dan calon mantu anaknya soal mengaji.

Awalnya, saya mengira semua orang pasti lah bisa mengaji. Pasti lah pernah diajarkan mengaji dan pasti lah sudah bisa membaca Al Quran dengan baik dan lancar. Tapi, dugaan saya itu mulai runtuh perlahan ketika saya masuk sekolah umum – nggak semua orang bisa ngaji. Mengaji itu pada hakikatnya akan menjadi mudah dan lancar ketika terbiasa dan rutin dilakukan. Hampir semua orang tua juga telah memberikan kesempatan anaknya untuk belajar mengaji ketika kecil, tapi tetap saja ketika anaknya beranjak dewasa ke-bisa-an mengaji itu bergantung pada kesadaran si anak sendiri untuk mau istiqomah atau tidak.

Papa selalu menekankan bahwa mengaji itu penting. Ternyata hal ini memang terkait dengan efek luar biasa dari mengaji seperti menghilangkan stress, meningkatkan kecerdasan, mencegah pikun, dan efek melegakan lainnya. Sholat dan mengaji itu merupakan satu kesatuan yang menunjukkan relationship kita kepada Allah. Ibaratnya kalau kita ingin bicara pada Allah, kita sholat, abis sholat kita berdoa – kan waktu yang afdol untuk berdoa itu sehabis sholat? Kalau kita ingin mendengar apa yang Allah sampaikan untuk kita, ya kita ngaji – membaca wahyu yang Allah turunkan.

Kedua hal ini seperti konsep balanced relationship. Secara garis besar, kita tahu kan bahwa sebuah konsepsi hubungan yang seimbang adalah ketika kedua variabelnya bisa saling memahami. Bahwasanya untuk saling memahami ini diperlukan suatu jalinan komunikasi yang seimbang, antara mendengarkan dan didengarkan. Dalam konteks relationship kita dengan Allah, jangan hanya menyuruh Allah mendengarkan keluhan kita saja, tapi kitanya tidak mau mendengarkan apa kata Allah – which is means jangan cuma sholat dan berdoa aja tapi kita nggak membaca Al Quran dan mengamalkan isinya.

Secara tidak langsung, analogi tersebut bisa jadi merepresentasikan watak si manusia itu sendiri terhadap orang lain. Wong sama Tuhannya aja dia nggak balance, gimana dengan manusia lain? Maaf, jika saya terlalu mengeneralisir.

Papa selalu bilang kepada saya tentang satu kriteria pandai mengaji, setiap kali saya membawakan cerita tentang teman lelaki yang singgah dalam kehidupan saya. Saya mungkin awalnya tidak terlalu mempermasalahkan, tapi ternyata lama-kelamaan saya menyadari bahwa kemampuan mengaji itu mulai langka. Orang yang ketika dewasa mengajinya tetap baik dan lancar itu membuktikan bahwa dirinya istiqomah. Karena apa? Ketika kecil memang semua anak diajarkan cara mengaji, tapi apa yang mereka peroleh itu adalah hal yang paling dasar, yang jika tidak dibiasakan dan di-istiqomah-kan ya akan dengan mudahnya terlupakan.

Tulisan ini reminder buat diri saya, supaya istiqomah dalam target saya mengaji setiap harinya. Sekaligus mengingatkan, tentang konsep balanced relationship kita kepada Allah. Sudah balance kah? Kita memang tidak akan pernah bisa menghitung nikmat yang Allah berikan pada kita – yang itu artinya pada hubungan kita dengan Allah saja kita sudah terlalu banyak menerima. Tapi kita masih bisa mengusahakan untuk me-maintain hubungan kita dengan Allah melalui sholat dan mengaji.

Jadi, ayo tegakkan sholat dan gemarkan mengaji, demi dunia dan akhirat yang lebih baik! Aamiin! :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: