passion..


Jadi, sebenarnya saya memang punya passion di bidang pendidikan, sepertinya sejak saya SMA, ketika pertama kali ikutan bantu-bantu mengajar waktu Bedhol Bhawikarsu (semacam bakti sosial yang melibatkan seluruh komponen sekolah) di suatu sekolah dasar di pelosok Kabupaten Pasuruan. Awalnya saya cuma bantu-bantu sie baksos, karena kebetulan ketika hari H, saya tidak punya job desc – yah, maklum namanya juga sekretaris. Saya ikutan sie baksos mengajar di sebuah sekolah di tengah hutan pinus, melalui jalan berbatu yang akan dengan teganya menggunduli ban motor yang kami naiki.

Mengajari mereka menulis, membaca, dan berhitung, membutuhkan kesabaran ekstra. Tapi, menyaksikan senyuman mereka ketika masuk kelas dan melihat kami berdiri di depan kelas dengan sebatang kapur tulis di tangan, sungguh tidak terbayarkan. Sipu malu ketika saya menawarkan kapur tulis untuk menyuruh mereka menjawab soal matematika yang saya tulis di papan tulis, senyuman ketika mereka berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, anggukan ketika mereka mengerti dengan materi yang saya sampaikan, saya kira itu adalah hal pertama yang membuat saya mempunyai passion di bidang ini. Dulu, saya sama sekali tidak ingin menjadi guru. Saya tidak bisa membayangkan butuh berapa juta ton stok sabar untuk menghadapi anak kecil yang rewel dan bandel. Ternyata, stigma itu lenyap ketika saya mulai terjun langsung beberapa kali untuk mengajar anak-anak, meski hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Mengajar mereka itu membahagiakan, sangat membahagiakan. Pertanyaan polosnya, celotehan lucunya, ah, jika bisa saya ingin selamanya bersama anak-anak itu.

Soal passion ini, saya yakin akan ada banyak cara yang bisa ditempuh. Latar belakang pendidikan saya memang engineer, tapi passion saya adalah teaching. Semoga saja dalam sepuluh tahun ke depan cita-cita kecil ini bisa terwujud. Aamiin! Saya baru saja diberi kesempatan mewujudkan passion ini, tapi mungkin saya belum bisa semudah itu mencapainya. Mungkin belum saatnya, bukan sekarang, mungkin satu kesempatan selanjutnya, atau entah kapan. Bukan masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa mewujudkannya, karena yang terpenting adalah suatu saat hal ini harus terwujud.

Mungkin dalam waktu dekat ini, permasalahannya adalah materi di luar itu yang harus lebih dulu dipenuhi. Saya punya mimpi yang saya simpan sejak bertahun lalu, tapi sepertinya mimpi itu memang harus saya simpan dulu hingga saya benar-benar bisa mandiri secara finansial maupun lahiriah. Lagipula, jalan untuk meraihnya tidak terputus pada satu jalur saja kan? Akan ada cara lain untuk meraihnya. InsyaaLlah akan diberi jalan. Laa haula wa laa quwwata illaa biLlah! Semangat! Semangat! Semangat!

Advertisements

2 comments

  1. ayoo bu dosen,, dienteni kiprah dosennya.. 😀

    1. aamiin.. mohon doanya yaa med 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: