loneliness..


Sebelumnya, saya ketawa ngebaca tulisan Rasyidah soal ini. Yah, emang sih teman-teman di kampus becandanya sering keterlaluan, tapi karena sudah sering jadinya mental kami kebal. Eh, tapi kadang banyak nyebelinnya juga sih. Kalo mood lagi bagus yaa, cuma ikut menertawakan diri sendiri, setelah itu lupa. Kalo mood lagi jelek, bisa kali ngedumel sendiri bahkan sampe nulis di blog kayak si temen saya satu itu. Hahaha. But, despite that all, they are all our friends – college friends who watch and accompany us grows being us right now.

Sudah dua semester kita tidak mengenyam bangku kelas untuk kuliah, karena memang syarat pemenuhan SKS sudah terpenuhi, tinggal enam SKS gerbang akhir menuju gelar sarjana komputer saja yang belum terselesaikan. Dua semester ini juga kita jarang bertemu, kecuali ketika bertemu di kampus untuk bimbingan skripsi, menghadiri seminar hasil skripsi, atau hadir untuk menemani teman menjalani sidang kompre. Dua semester ini juga jarak kita semakin meregang setelah dulu terpecah oleh jadwal kuliah tiga konsentrasi bidang yang banyak berbeda.

Ketika kita bertemu di kampus, kita betah duduk berlama-lama, berbagi gosip seputar kampus kepada setiap teman di angkatan kita yang ditemui hari itu. Ketika kita tetiba ingin hangout bareng melepas penat, pada akhirnya yang kita bagi adalah cerita harian kita ketika tidak bersama. Ketika kita lama tidak berjumpa, ratusan incoming message di berbagai messenger tertumpah hanya untuk sekedar menyapa, basa-basi, hingga akhirnya curcol mendalam soal masalah pribadi.

Sepi ya? Kalau kita tidak lagi duduk di bangku kelas untuk kuliah itu rasanya sepi. Apalagi di usia kita yang sekarang, teman dari masa SMA pun pastinya sedang sibuk dengan dunianya masing-masing, entah kuliah lagi, atau bekerja, atau juga masih sibuk berkutat dengan skripsi seperti kita. Akhirnya, ketika kita tidak sedang ke kampus untuk bimbingan, kita hanya bisa berkicau di twitter, mengomentari tweet teman dengan heboh.

Iya, saya akui, saya kesepian.

Setiap hari, jika tidak tenggelam di antara ratusan baris syntax, ratusan baris laporan skripsi, ratusan baris jurnal, ratusan baris buku pelepas penat, atau ratusan baris subtitle serial drama, kita hanya bisa berkomunikasi melalui ratusan baris tweet yang diketik di laman twitter client.

Saya kangen. Kangen dengan kebersamaan kita yang mungkin tidak seberapa lama. Kangen dengan becandaan sarkastik yang nyelekit tapi justru bikin kita makin klik.

Ah, do you mind if I tell you, that I miss us, friends?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: