tentang belajar dan mengajar..


Hasil iseng membaca sebuah buku The Power of Learning Style – Barbara Prashnig.

Saya memang bukan seorang pengajar profesional dengan latar belakang pendidikan keguruan, tapi saya tetiba tertarik pada dunia pendidikan ketika saya menjadi seorang asisten laboratorium untuk pertama kalinya, pada dua tahun yang lalu. Sejujurnya, ketika SMA, saya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjadi tenaga pengajar. Yang saya tahu, saya hanya ingin menjadi teknokrat. Well, life goes on, brings us much lessons of life. Setelah mengajar pertama kalinya, saya kemudian mendapati bahwa berbagi ilmu adalah salah satu passion saya.

Saat menjadi asisten laboratorium pertama kali, saya masih menjadi seorang idealis. Dengan standar tertentu, saya ingin semua praktikan saya mengikuti sesuai standar saya, jika tidak, mereka tentu akan mendapat nilai yang berbeda. Selama setahun mengajar, saya kemudian menyadari bahwa cara saya salah karena metode penilaian yang diterapkan adalah induktif. Karena saya perfeksionis, tentulah akan sangat jarang sekali praktikan yang bisa mencapai nilai sempurna sesuai standar saya. Hal ini mengakibatkan beban moral buat saya, apa yang saya lakukan ini berdampak pada akademis dan masa depan seseorang, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. 😐

Di tahun kedua menjadi asisten, status saya berubah menjadi asisten dosen dan dipercaya menjadi koordinator di laboratorium sistem komputer dan robotika. Saya mengupayakan perubahan pada sistem yang baru ini, dengan menetapkan metode penilaian yang deduktif. Semua praktikan diberi nilai awal yang sama, 90 – jika mereka mencapai kesempurnaan hasil. Ketika pada proses penguraian hasil kerjanya tidak didapati poin-poin penting mengenai tugas dan tes yang diberikan, maka akan diberikan pengurangan nilai dan catatan kekurangan. Hasilnya? Nilai praktikan menjadi lebih baik dan semakin lama mereka semakin termotivasi untuk memperbaiki hasil kerjanya. Nilai kelulusan praktikum pun meningkat pada tahun tersebut.

Cara yang seragam dalam mengajar dan menguji jelas tidak memuaskan karena setiap orang itu sangat berbeda.
[Howard Gardner]

Praktikum memberikan kontribusi yang cukup besar untuk ilmu para praktikan, karena dosen hanya memberikan teorinya saja, sementara dalam praktikum ini para asisten harus bekerja lebih ekstra untuk bisa memberikan pemahaman melalui praktik. Kalau cara saya mengajar dan menguji tetap induktif seperti yang pada umumnya dilakukan, lalu apa bedanya? Tanggung jawab moral saya tetap akan menghantui jika terdapat praktikan yang tidak lulus. Pendapat saya sih, setiap orang punya cara mereka masing-masing untuk belajar dan mencapai targetnya – dan itu berbeda. Saya meyakini bahwa setiap praktikan memiliki cara mereka masing-masing untuk bisa memahami apa yang mereka pelajari, ada yang bisa menekankan pada detail, ada yang hanya bisa menyimpulkan poin-poin penting, tapi tujuan mereka sama: memahami dan mendapatkan nilai akhir yang baik.

Dalam buku Power of Learning Style – Barbara Prashnig ini, sangat ditekankan bahwa dalam mengajar itu yang utama adalah penyesuaian pengajar terhadap objek ajar, bukan penyesuaian objek ajar terhadap pengajarnya. Hal ini bisa dinyatakan sebagai malpraktik pendidikan yang dapat membunuh keberagaman cara belajar objek ajar. Serem gini jadinya. 😐 Metode seperti ini mengupayakan relevansi psikologi objek ajar pada masa yang berbeda. Kalau mungkin dulu masih ditemukan banyak guru yang mengajar dengan kekerasan, menggebrak meja, menghukum murid jika melakukan kesalahan yang tidak sesuai standar guru tersebut, hal itu bisa jadi relevan dengan masa itu, dimana di rumah pun orang tua mendidik anaknya dengan keras dan tegas. Sekarang? Berbagai larangan kekerasan dalam pendidikan sudah ditetapkan berikut perubahan cara orang tua dalam mendidik anak, yang menurut pendapat orang tua generasi sekarang adalah: kasihan kalau anak saya dikerasi seperti zaman saya dahulu. Pendidikan ditujukan untuk mendidik, menciptakan generasi yang mampu membangun negara dan membawanya menjadi lebih baik. Jadi ya, perubahan pendidikan sendiri seharusnya memang memiliki relevansi terhadap psikologi generasi mudanya.

Jangan batasi anak anda dengan cara belajar anda sendiri, karena mereka dilahirkan pada masa yang berbeda.
[Jew’s Wisdom]

Semoga apa yang saya peroleh dari buku ini bermanfaat buat saya ke depannya, ketika saya menjadi pengajar nanti, ketika saya menjadi ibu untuk anak-anak saya nanti. Aamiin :mrgreen:

Advertisements

One comment

  1. […] dalam belajar mengajar gak ada istilah “download complete”, cuma ada user yang udah donlot banyak ama yang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: