the power of yoweslah..


Setiap orang punya ekspektasi. Setiap orang punya standar tentang sesuatu yang mereka inginkan. Setiap orang punya hak untuk menetapkan standar dan ekspektasi dalam hidupnya.

Saya, sedari kecil sudah tumbuh akibat ekspektasi. Sebagai anak sulung dan satu-satunya anak perempuan di keluarga saya, saya tumbuh dalam ekspektasi orang tua saya yang cukup tinggi. Menurut hasil tes psikologi, saya termasuk superior, yang kemudian membuat semua orang di lingkungan saya pun menaruh ekspektasi yang tinggi. Di saat balita berusia tiga – empat tahun menikmati masa indahnya bermain setiap hari, saya malah mulai diikutkan TPQ dan diajari membaca, menulis, serta berhitung oleh orang tua saya. Saya bersyukur sih kalau soal yang ini. Tapi agak bete juga, karena kedua adik saya tidak mendapat ekspektasi yang sama seperti yang saya rasakan. Karena saya anak pertama? Karena saya perempuan?

Selama SMA, saya hidup dalam ekspektasi yang lebih tinggi, yang membuat saya menjadi saya sekarang ini. Orang-orang mempercayakan tanggung jawab besar pada diri saya, sejak menjadi wakil pimpinan redaksi jurnalistik di kelas X, di tahun berikutnya menjadi pimpinan umum ekskul jurnalistik di kelas XI yang kemudian ditambah lagi menjadi satu-satunya kandidat sekretaris umum OSIS. Saya hidup dalam ekspektasi orang lain dan saya berusaha melakukan itu dengan sebaik-baiknya, dan dulu saya memang bisa – hal itu yang sedikit banyak berkontribusi sebagai penyebab sisi idealis dan perfeksionis dalam jiwa saya. Lulus SMA? Cita-cita saya sejak SD untuk kuliah di ITB pupus, karena orang tua saya tetiba mencabut izinnya pada dua bulan sebelum SNMPTN. Ekspektasi saya hancur. Sambil mengumpulkan puing-puing harapan, akhirnya saya pasrah memilih kampus tempat saya kuliah sekarang ini. Yoweslah.

Di kampus ini, terlalu banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya. Saking banyaknya sampai saya males nulisnya, terlalu banyak hal yang membuat sakit hati dan menghancurkan pemikiran saya soal ekspektasi terhadap diri saya sendiri. Mulai dari ekspektasi yang tinggi kemudian harus terjun bebas untuk menerima pahitnya kenyataan. Hingga akhirnya saya cuma bisa berkata: Yoweslah.

Mungkin Allah memang mentakdirkan saya hidup di lingkungan yang sekarang ini agar saya bisa mengerti bagaimana rasanya hidup dalam lingkungan yang tidak-selalu-ideal, seperti halnya yang saya rasakan dulu semasa sekolah. Kalau dulu saya percaya akan adanya keajaiban, di sini saya cuma bisa memandangi perjalanan hidup sambil mengambil makna dari realita yang ada. Yoweslah.

Di tahun 2012 ini juga, sembari mengerjakan skripsi, saya juga mengalami banyak sekali kejadian dalam hidup saya. Mulai dari berharap, diberi harapan, ditinggalkan, dikecewakan, dikhianati, disakiti. Semuanya bikin saya pada akhirnya hanya bisa pasrah, yoweslah, mungkin memang jalannya demikian. Setelah berkata yoweslah itu, saya kemudian bisa sedikit tersenyum, mencoba untuk ikhlas. Semuanya adalah pelajaran hidup, yang tentunya nggak akan sia-sia.

Nggak akan ada sesuatu hal pun di dunia ini yang sia-sia – kalau kita mencoba berpikir positif. Patah hati misalnya, yaa mungkin memang kitanya yang kurang cukup baik, harus terus upgrade diri, kalaupun kita nggak mendapatkan orang yang kita inginkan, selama kita terus upgrade diri lagi, nanti juga akan datang yang jauh lebih baik dari yang meninggalkan kita, percaya aja. Poin ini sih yang sebenarnya paling membekas dalam setahun ini. Saya harus mengakhiri penantian dan harapan saya yang sangat panjang, untuk bisa bangun, berdiri, dan beranjak menjalani hidup. Saya harus berkali-kali memantapkan hati untuk berhenti mendoa tentang seseorang, seseorang, seseorang, yang datang untuk sekedar singgah dan kemudian pergi menyisakan kekecewaan. Iya saya kecewa, kecewa pada diri saya sendiri yang membuat dia tidak mampu bertahan. Yoweslah, bukan jodohnya mungkin?

The power of yoweslah buat saya, bikin saya kembali mengingat Allah.

Percaya aja, kalau sesuatu yang kita usahakan meski di akhir memberi kekecewaan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allah ingin saya belajar dari kejadian itu, untuk tidak lagi menjadi orang yang terlalu naif. Saya masih sering berharap meski juga akhirnya kondisi hati saya langsung pecah berkeping-keping. Tapi ketika saya mengumpulkan pecahan itu dan menyatukannya kembali, saya tetap berharap lagi. Kalau saya bisa menjadi lebih baik, maka Allah pun akan menyiapkan yang lebih baik buat saya. InsyaaLlah 🙂

Advertisements

8 comments

  1. #pukpuk
    semangat chiii ~\^o^/~

    1. makasiiiih. *peyuk* :3

  2. tldr;

    Kalo post ini bisa pake BGM mungkin cocoknya pake lagu “Ya Sudahlah” kali ya :p

    1. ah iya. kayaknya bacanya sambil dengerin lagunya bondan yg itu haha 😀

      1. Cepet kali balesnya :))

      2. pas lagi buka blog orang, muncul notifikasinya 😀

  3. ihik…
    *dilempar bakiak*

    semangat fifih, insya Allah dikasih yang lebih baik :’)

    1. aamiin :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: