kue pukis idola..


2012

Mama pulang dari pasar di hari Minggu pagi pukul 7.00, seperti biasanya membawa sekantong plastik besar bahan makanan mentah mulai dari sayur sawi, bayam, ikan tongkol, ayam, bawang putih, bawang merah, tomat, hingga kue pukis. Harganya lima ribu rupiah untuk sekantong plastik berisi sepuluh potong kue pukis. Topping kue pukis itu ada dua macam, kacang dan cokelat butir. Sangat lezat dinikmati hangat-hangat ketika sinar matahari masih beranjak naik.

Mama hanya membeli satu plastik saja, berisi sepuluh potong, untuk kami sekeluarga yang berjumlah lima orang, Mama, Papa, dan kedua adik saya. Ketika gaung suara motor terdengar mama terdengar mendekat dari arah jalan raya, kami biasanya bersiap menanti mama membantu mengangkut belanjaan mama kemudian mencari seplastik kue pukis idola.

Hanya dalam waktu dua menit, kue pukis sebesar setengah kepalan jari itu ludes. Masing-masing orang makan dua potong, itu aturan yang Mama buat, aturan keadilan.

***

2022

Liburan akhir tahun, kami sekeluarga sepakat untuk berkumpul di rumah Mama, tempat kami hidup menghabiskan masa kecil. Usiaku tiga puluh dua tahun, telah mempunyai seorang suami ganteng dan keren dunia akhirat, dua orang malaikat kecil yang kunamai Fikri dan Zahra, serta satu calon adik mereka yang masih berusia tiga bulan di dalam perutku. Usia Ruli, adikku, dua puluh sembilan tahun, telah menikah dengan pacar sejatinya sejak SMA dan sedang menikmati masa-masa berdebarnya menjadi seorang ayah karena istrinya sedang hamil tua. Ary, adikku yang paling bungsu, dua puluh delapan tahun, baru saja menikah pertengahan tahun ini.

Minggu pagi ini, aku pergi ke pasar bersama Mama. Mama masih kuat berkeliling pasar, mengajakku bernostalgia dengan kebersamaan berbelanja bersama Mama seperti ketika aku masih kuliah dulu. Tidak banyak yang berubah dari pasar ini, kecuali penjualnya yang sudah berganti rupa atau bahkan berganti generasi. Kemudian kami melewati stand penjual pukis idola, penjualnya tetap sama, hanya tampak lebih tua, yah sepuluh tahun jelas memakan usia. Spontan aku menggamit tangan Mama, menggenggam jemarinya, dan membawanya untuk membeli kue pukis idola itu.
“Beli dua plastik, Pak”
“Kok dua plastik? Beli empat sajalah, kan banyak orang di rumah. Kasihan anak-anak nanti kalau kurang.”

Aku menahan keinginan Mama untuk menambah pesanan pukis dengan langsung menyodorkan uang dua puluh ribu pada bapak penjual pukis idola, “Kalau lebih dari dua, rasanya beda, Ma.”
“Dua plastik saja Pak, cukup.”

Dua plastik kue pukis idola itu pun kami bawa pulang. Disambut ceria oleh malaikat-malaikat kecilku dan semua anggota keluarga baru. Aku membuka plastik pembungkus kue pukis idola itu, menata pukisnya di sebuah piring saji. Dua puluh potong, masing-masing dua potong untuk sepuluh orang, itu aturannya. Sepuluh potong dengan topping kacang dan sepuluh potong dengan topping cokelat butir, dan masing-masing orang harus merasakan rasa yang sama.

“Kue pukisnya enak, Bunda. Kakak boleh nambah lagi yang cokelat?” Sulungku berceloteh usai menjilat bekas cokelat butir di kue pukisnya yang terakhir.
“Masing-masing dua itu cukup, sayang. Coba hitung, di rumah ini ada berapa orang?”
Fikri menghitung jumlah penghuni rumah dengan jari tangannya. “Yangti, Yangkung, Bunda, Ayah, kakak, adek, Om Ruli, Tante Eca, Om Ary, Tante Risa…… sepuluh!” sambil menunjukkan kesepuluh jemari kecilnya kepadaku.
“Nah, tadi Bunda beli sepuluh potong topping cokelat dan kacang, masing-masing orang dapet berapa?”

Fikri sudah belajar pembagian sederhana, dia kemudian menghitung dengan tangannya, sebelum bisa menjawab pertanyaanku, “Mmm.. Iya yah, cuma bisa satu potong cokelat dan satu potong kacang!”
“Betul. Ini namanya adil, sayang. Masing-masing orang harus mendapat jatah yang sama. Kalau Kakak makan dua potong, satu cokelat dan satu kacang, Adek juga sama. Nggak boleh serakah, ya?”
kalimatku disambut anggukan tanda mengerti oleh si Sulung.

“Lagipula, kita nggak akan tahu nikmatnya satu potong kue pukis cokelat dan kue pukis kacang kalo kita nggak ngerasain dalam porsi yang sama. Ditambah sensasi berebut dalam dua menitnya ini loh yang gak ada bandingannya! Berasa masih kayak sepuluh tahun yang lalu. Hahaha..” Ruli menimpali dan disambut tawa seisi rumah.

Pukis idola, jajanan pasar yang sederhana, tapi mengajarkan kami sekeluarga makna keadilan dan kebersamaan dalam keluarga. Dan Mama adalah bidadari yang membawakan pelajaran hidup sederhana dari dua potong pukis itu di setiap hari Minggu pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: