aku memanggilnya mama..


Aku memanggilnya mama, bukan ibu, bukan bunda, bukan emak, bukan mami, bukan mommy, bukan mimi, atau panggilan kepada ibu lainnya.

Usia saya terpaut dua puluh empat tahun dengannya.

Mama adalah seorang perempuan mandiri yang cerdas dan aktif. Semasa kecilnya mama merupakan atlet lompat jauh di tingkat kota kelahirannya.

Mama membenci fisika, namun akhirnya malah bergelut di jurusan yang menggunakan fisika sebagai dasar pembelajarannya: teknik sipil.

Mama orang yang sangat study oriented selama ini. Kuliah pertamanya adalah D3 Teknik Sipil di Politeknik VEDC Bandung, yang kemudian dilanjutkan mengambil kuliah alih jenjang S1 di ITB ketika mama sudah memiliki tiga orang anak. Saat saya masuk kuliah tahun 2008 lalu, mama juga ikut kuliah lagi meneruskan kegiatan belajarnya ke jenjang S2 di Universitas Brawijaya. Sebenarnya mama bisa saja meneruskan kuliahnya ke ITB lagi. Tapi, mama lebih memilih kuliah di Malang, untuk mengurus keluarga kecilnya.

Mama tidak suka baca buku. Beliau sering mengomel ketika saya mengoleksi buku-buku bergenre novel yang menurutnya kurang berguna.

Mama cenderung boyish. Beliau kurang suka mengenakan rok, yang menurutnya ribet dan nyerimpetin. Beliau sering mengomeli saya yang mulai beranjak memperbaiki jilbab yang saya kenakan dengan menggunakan rok dan kaus kaki. Mama bilang ribet lah, kalau hujan kotor lah, tapi saya selalu hanya bisa menjawab, “Aku cuma mau berusaha menutup aurat kok, ma.”

Mama adalah satu-satunya orang yang menjadi inspirasi saya untuk mengenakan jilbab ke sekolah sejak kelas 1 SD. Mama mulai berjilbab sejak tahun 1986, ketika dahulu jilbab masih dianggap simbol fanatisme agama. Di tahun 2001, barulah putri semata wayangnya ini mendapat hidayah berjilbab, yang menyebabkan senyum di wajahnya merekah sempurna. “Kamu beneran mau pake jilbab?” dan dengan polosnya, saya menjawab “Iya ma, pengen aja. Ngeliat mama pake jilbab kemana-mana bagus.” Ketika itu mama langsung bergegas mengajak saya berbelanja pakaian panjang di department store.

Mama pecinta eskrim. Beliau bisa langsung berubah menjadi seperti anak kecil ketika melihat eskrim. Mama bahkan pernah pulang membawa tiga belas bungkus eskrim coklat ke rumah!

Mama orangnya fashionable dan berjiwa muda. Hingga sekarang mama masih doyan mengenakan celana jeans dan sepatu trend anak muda yang bahannya glossy.

Mama tahu trend apa yang sedang happening di kalangan anak muda dan mama masih bisa mengikutinya.

Mama punya facebook dan doyan narsis di depan kamera seperti saya. Kami berdua sering berpose duckface atau pose lucu lainnya yang menunjukkan kekompakan kami.

Mama sering mengajak saya makan berdua satu piring dengannya, yang bahkan di depan umum pun kami tidak malu melakukannya.

Mama sama keras kepalanya dengan saya, yang tak jarang mengakibatkan saya pundung seharian. Metode pendidikan anak dari kakek saya yang keras rupanya terwariskan juga pada mama. Tapi mama selalu punya cara untuk memulai berbaikan dengan saya lagi dengan tetiba mengetuk pintu kamar sambil menyodorkan coklat kesukaan saya, mengupaskan apel, menawarkan eskrim, atau bahkan mengajak jalan-jalan berdua, seolah kami berdua sedang tidak berantem. Aneh? Tapi menurut saya ini bagian paling manis dari setiap scene berantem kami.

Mama percaya sepenuhnya pada anak-anaknya. Beliau tidak melarang kami aktif bergaul di lingkungan kami, yang justru membuat kami jarang pulang ke rumah. Tapi sejak saya kuliah, saya menyadari bahwa waktu saya mungkin tidak akan lama lagi untuk bisa bersama orang tua saya jika nanti saya menikah dan mengikuti kemana suami saya memulai hidupnya. Saya mulai sering di rumah, memanfaatkan masa-masa bersama mama dan papa.

Mama orang yang sangat kuat dan tegar. Ketika papa jatuh sakit, mama dengan sangat sigap merawat papa berhari-hari di rumah sakit. Hampir setiap orang yang datang menjenguk berkomentar melalui saya, “Mamamu kuat, ya.” Ketika kondisi emosi papa terganggu akibat penyakitnya dan tanpa sadar mamarahi mama dengan kasar, mama tetap menampakkan wajah yang kuat, meski kemudian menangis di depan saya.

Mama tidak romantis. Sering saya memberinya kejutan kecil dengan memberinya bros, bunga, atau cake tart di hari ulang tahunnya, bukannya menangis haru seperti scene di film-film, tapi mama malah bertanya “Berapa harganya?”. Spontan saya pundung! 😡 Bukannya terharu malah justru memikirkan apakah anaknya kesusahan membelikan kado itu untuknya. Itulah mama.

Aku memanggilnya mama, perempuan tercantik di hatiku, perempuan paling kuat, paling hebat, paling cetar membahana selamanya! :mrgreen:

Selamat hari Ibu, Mama! Aku sayang mama, selamanya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: