repotnya jadi perempuan..


Selain salah satu syndroma menjelang hari Ibu tanggal 22 Desember, serta hasil perbincangan agak serius dengan teman-teman main waktu SMA semalam, tetiba terlintas di benak saya tentang repotnya menjadi perempuan. Berikut uraiannya:

Pertama, menjadi perempuan di era globalisasi dan emansipasi saat ini sangat dilematis. Perempuan sudah dibolehkan menapaki jenjang profesi apapun, mulai dari kuli bangunan bahkan tentara. Akibat isu kesetaraan gender dalam setiap hal, perempuan makin ingin berkembang dalam setiap jenjang profesinya. Perempuan yang dahulunya cenderung mendominasi bidang sosial dan ilmu kesehatan, saat ini mulai merambah dunia engineer (termasuk saya dan beberapa perempuan di keluarga besar saya). Yah, harus diakui bahwa perempuan memiliki bakat alam untuk lebih bisa mengelola sesuatu menjadi lebih terstruktur dan lebih detail. Dalam bidang yang lebih menonjolkan perhatian pada detail dan ketelitian, perempuan akan cenderung lebih unggul. Dalam bidang yang cenderung memerlukan logika, lelaki tentu akan lebih unggul, meski saat ini perempuan mulai mampu menyainginya berkat tambahan bakat alam pada dirinya. Repotnya perempuan yang berada pada jenjang profesi dimana banyak lelaki yang mendominasi adalah, kami  perempuan menginginkan kesamaan kesempatan belajar, kesamaan kesempatan karir, namun kami tetap ingin diperlakukan istimewa sebagai perempuan seutuhnya. Buat saya sih lucu, agak nggak konsisten dengan keinginan kesetaraan gender, ya? Saya angkat topi untuk perempuan-perempuan yang bekerja di field dan merasakan kerasnya alam sebagai bagian dari pekerjaannya, bahwasanya tidak semua perempuan benar-benar bisa memposisikan dirinya dengan baik pada jenjang profesi-man-dominate-nya. Well, yah apapun bidangnya, saya rasa baik lelaki maupun perempuan tetap bisa lah bekerja sama dalam satu tim yang solid, dengan kombinasi kemampuan organizing perempuan dan logika-teknis lelaki.

Kedua, tidak sedikit saya mengetahui ekspektasi lelaki yang menginginkan agar perempuan sebaiknya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari dirinya. Entah perempuan itu akan menjadi ibu rumah tangga saja atau juga menjadi wanita karir, perempuan tetap harus berpendidikan tinggi karena dia adalah pengelola utama keluarga. Untuk bisa bekerja, mengelola keuangan rumah tangga, mendidik anak, dan menjadikan dirinya sendiri bisa survive dalam kehidupan itu dibutuhkan wawasan yang luas. Memang, wawasan dan pengetahuan tidak melulu diperoleh dari bangku sekolah, namun tentunya wawasan itu akan makin luas jika didapatkan dari suatu lembaga pendidikan yang notabene terdiri dari orang-orang dengan berbagai sifat dan latar belakang. Selain mendapat ilmu pengetahuan teoritis, wawasan antropologi dan sosiologi juga diperoleh secara langsung sebagai bonusnya. Ada juga lelaki yang menginginkan perempuannya memiliki latar belakang pendidikan yang bahkan lebih tinggi darinya. Saya kagum dengan lelaki macam ini, karena ternyata dia bisa meredam ego pribadinya demi harapan masa depan keluarga yang lebih baik. Hanya saja, mungkin akan jarang sekali hal ini terjadi, karena ketika seorang perempuan telah berpendidikan tinggi, maka ego pribadinya juga akan memiliki ekspektasi tentang pendamping yang memiliki latar belakang pendidikan yang juga lebih tinggi darinya. Repot ya?

Ketiga, soal menikah atau tidak menikah. Perempuan zaman dahulu menikah di usia sangat muda, karena mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi seperti halnya perempuan saat ini. Mereka dahulu dicetak untuk menjadi ibu rumah tangga – tidak lebih. Sejak zaman perintisan emansipasi wanita, yang menuntut kesamaan hak untuk mendapatkan pengajaran, barulah paradigma itu berubah. Satu hal yang tidak akan berubah adalah mengenai batas usia aman kehamilan. Studi kesehatan menyatakan bahwa usia subur optimal perempuan adalah pada usia 20-25 tahun dan ketika menginjak usia 30, kehamilan perempuan mulai dirasa rawan. Hal ini mengakibatkan paradigma bahwa melebihi usia 25 tahun, perempuan akan dianggap telah lewat masanya – dikata makanan kaleng, bisa expired? Tapi ya itu kenyataannya, rahim perempuan punya batas usia. Yeah, if they’re married and planned to have baby more than just one. Kembali pada keterkaitan poin pertama dan kedua, perempuan yang memiliki jenjang pendidikan dan karir yang tinggi bisa menjadi makin tinggi ego pribadinya. Bisa muncul pemikiran bahwa mereka tidak membutuhkan lelaki lagi dalam hidup mereka, karena menikah bisa menghambat karir dan kebahagiaannya. Untuk apa bergantung pada orang lain jika ternyata dirinya sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri? Dan lagi, perempuan yang tidak menikah di dunia masih bisa berkesempatan menjadi bidadari surga, sementara lelaki? Rasulullah saja menganjurkan sebaiknya lelaki tidak meninggal dalam keadaan membujang. See? man needs woman, more. 😛 Tapi saya sih, jika memang Allah berkehendak, saya tentu lebih memilih menikah, dengan resiko melakukan pengorbanan sana-sini, karena menikah bisa menyempurnakan separuh iman. *kalo bahas ginian aja semangat* 😳

Keempat, soal menyatakan cinta. Kalau di zaman Rasulullah dulu, seorang perempuan melamar lelaki juga dibolehkan, seperti halnya Khadijah r.a. yang melamar Rasulullah. Toh, apa salahnya menawarkan diri untuk lelaki yang berbudi sebagai pendamping hidup kita nantinya? Tapi, pandangan yang berkembang sejak dahulu di masyarakat, perempuan itu cuma bisa menunggu – meski sampe jenggotan – hingga lelaki yang tepat untuknya datang. Iya kalau yang ditunggu segera datang, kalau tidak? Terkait lagi dengan batas usia subur perempuan, kalau kelamaan kemudian si perempuan makin keriput dan mungkin sudah menopause, lelaki mana ada yang mau? Repot kan? Tapi yaa, insyaaLlah yang seperti itu selama bisa menjadi orang yang baik di dunia akan Allah jadikan dia bidadari penghias surga.

Beda dengan lelaki, yang dari sekecil memang dituntun untuk menuntut ilmu, meraih pendidikan tinggi, kemudian menikah dan bekerja untuk bisa menafkahi keluarganya. Plot ceritanya sudah paten dan akan tetap seperti itu. Tidak peduli seberapa tinggi latar belakang pendidikannya, yang penting dia berpenghasilan dan bisa menafkahi keluarga itu sudah cukup. Beda dengan perempuan, yang di dunia ini berfungsi sebagai perhiasan lelaki (suaminya), dia bisa memilih untuk berpendidikan tinggi atau tidak, bisa memilih untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga saja, namun memiliki tanggung jawab, kodrat, rutinitas-repot yang jauh lebih kompleks daripada lelaki.

Kita sebagai perempuan punya hak untuk memilih dan menjadi perempuan seperti apa kita di masa depan. Then, let’s get prepared! :mrgreen:

 

Advertisements

One comment

  1. Mencoba ikut menyumbangkan pikiran 🙂

    Untuk point 1:
    kesetaraan karier seperti apakah yang dinginkan perempuan saat ini?
    kalau pendapatku pribadi:
    – perempuan itu wajib berkarier di bidang-bidang yang sebenarnya hanya boleh untuk perempuan, contoh: bidan, dokter kandungan
    *Demi Allah aku ndak mau istriku nanti hamil terus yang meriksa dokter cowok, naudzubillah min dzalik!!!*
    – perempuan itu boleh berkarier di bidang-bidang yang bisa dijalani oleh perempuan dan laki-laki, contoh : dokter umum, jurnalis, dosen, guru, dll.
    – perempuan itu tidak boleh berkarier di bidang-bidang yang sebenarnya hanya boleh dilakukan oleh laki-laki, contoh: kuli bangunan, pekerja tambang.
    *sebagai laki-lakipun aku juga tidak bisa menerima bila melihat wanita harus angkat-angkat batu jadi kuli bangunan atau masuk ke gua tempat pengeboran batu bara.*

    untuk point 2:
    pada intinya setuju, baik perempuan maupun laki-laki berhak mendapatkan pendidikan setinggi apapun. Kalau ada yang bilang “Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya paling juga didapur!” maka dia adalah orang yang jahil, dia lupa bahwa keluarga, terutama Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana bisa putra-putri kita nanti bisa menjadi generasi yang lebih baik bila guru pertamanya tidak bisa mendidiknya dengan baik? Benar kan? 🙂

    untuk point 3:
    Saya mengutip sabda Rasulallah saja:
    “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” [HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah]
    *btw yang “man needs woman, more”? itu maksudnya laki-laki perlu wanita lebih dari satu? #eh #gagalpaham* :p

    untuk point 4:
    hanya ingin meluruskan, yang melamar tetap Rasulallah, karena dalam Islam laki-lakilah yang melamar perempuan, tidak sebaliknya. Pada kasus Rasulallah dan Khadijah, Ibunda Khadijah hanya “mengajukan diri” (untuk dinikahi) kepada Rasulallah melalui pembantunya saat itu. Jadi tetap yang melamar adalah Rasulallah.

    Dan terakhir yang saya yakini adalah, Allah Subhana Watala menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi, saling menemani, bukan untuk saling bersaing. Seperti yang dicontohkan Rasulallah dan Ibunda Khadijah, atau seperti Habibie dan Ainun. 🙂
    *Wallahu’alam*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: