galau (jodoh) masa depan..


Saya (sedang) ingin menikah. Yah, bisa jadi ini efek pergi ke kondangan di musim nikah akhir-akhir ini. Biasanya sih, efek mupeng itu sifatnya volatile, cuma bertahan sampai otak saya kerestart – ketika bangun pagi udah bakalan lupa sama mupengnya. Tapi ini seenggaknya bertahan udah lebih dari 3 hari (ini adalah suatu pencapaian, penting!).

Lalu, kenapa saya nggak nikah aja? Hahaha.

Jadi, akhirnya saya mengadakan pembicaraan serius di tengah acara nonton tivi di kamar orang tua saya. Dulu, saya pernah minta dijodohkan. Kenapa? Ceritanya bermula ketika saya pernah menjatuhkan pilihan ke seseorang, orang tua saya kurang setuju, karena dia seumuran sama saya (dan belum lulus kuliah juga pastinya), hal itu bikin saya malas berpetualang mencari cinta lagi (pret!). 😦
Papa saya bilang, “Papa sama Mama ngasih kamu kebebasan buat nyari jodohmu. Syaratnya orangnya harus baik. Karena cuma kamu yang bisa ngerti orang yang baik dan pas buat kamu itu seperti apa.” (Uuuh, papa, peyuuuuk :*)
Waktu pun berjalan, hari berganti hari (alah!). Tiba masa ketika saya kemudian dilamar (lagi) oleh seseorang yang saya cuma tahu wajahnya, namanya, tempat kerjanya, ketemu juga baru sekali, udah gitu aja. Setelah berkenalan lebih lanjut, pake curriculum vitae dan biografi berbentuk narasi (ciyeilee..), sedikit banyak saya mulai mengenal ybs. Dalam suatu pembicaraan bersifat perkenalan, saya nanya nyeplos soal ngaji. “Mas ngajinya lancar, nggak?”. Sayangnya beliau akhirnya jujur kalo ngajinya belum lancar (ngomong sambil nyandar galau ke tembok mesjid). 😐
Saya pun lapor ke orang tua saya soal belum lancarnya ybs dalam mengaji – yang kemudian menjadi petuah syarat standar calon mantu orang tua saya.

“Cari suami itu yang pinter ngaji, nduk. Mau dia pengetahuan agamanya bagus, banyak ikut kajian, kalo nggak bisa ngaji itu ya lain. Lelaki yang ngajinya bagus itu beda, nduk. Wes talah, percaya sama Papa.”

Ya kalo dipikir-pikir, apa yang papa bilang bener juga. Nanti, ketika sudah berkeluarga kalo suami saya ngajinya nggak lancar, siapa yang ngajarin anak saya ngaji? Masa iya saya yang ngajarin bapak sama anaknya barengan? (Naudzubillah..). 😐
Pembicaraan serius itu akhirnya menghasilkan syarat calon suami saya adalah orang yang baik, agamanya bagus (seprinsip), yang pasti pinter ngaji. Itu masih syarat dari orang tua saya.

Dasarnya saya ini orangnya picky, idealis, akibat mengidap obsessive compulsive personality disorder, saya jadi menetapkan standar tinggi (atau malah ketinggian?) untuk segala hal yang akan menjadi masa depan saya. Terutama soal suami pastinya! Ya gila aja, nikah sekali seumur hidup, di mana saya akan menghabiskan duapertiga usia saya bersamanya, masa iya milihnya asal-asalan? Saya maunya calon suami saya itu yang lebih pintar dari saya dan berwawasan luas. Faktor ini cuma faktor kenyamanan aja sih. Selebihnya faktor kegantengan juga dipikirkan! Hahaha. 😛

Jadi, kenapa saya nggak nikah aja? Saya belum nemu yang cocok di hati saya dan cocok di hati orang tua saya. Saya nggak mencari-cari alasan untuk sekedar menunda menikah. Dalam buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim karya Ustadz Salim A. Fillah, terdapat nasihat:

“Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seorang berbeda yang baik akhlaq dan agamanya datang dan kita tak punya alasan syar’i untuk menolak, jangan sekali-kali menghindar!”.

Masyaa Allah! Saya tidak akan menghindar jika lelaki yang telah datang kepada saya itu telah dinilai baik akhlaq dan agamanya oleh orang tua saya. 😐

Sebelumnya, saya pernah bilang bahwa saya belum siap menikah dengan alasan ini-itu. Setelah saya baca ulang buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim karya Ustadz Salim A. Fillah bagian Menenun Jalinan Cinta, jelas saya merasa ditampar! Hehe (Ketauan banget dulu bacanya nggak sepenuh hati memahami :-P). Kesiapan menikah itu hanya diukur dari kemampuan jima’ (dan sebagian ulama menambahkan kemampuan mahar dan menafkahi). Kesimpulan tersebut diambil dari pemaknaan hadits berikut ini:

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari & Muslim)

Lalu, alasan-alasan lainnya disebut apa? Buat saya, itu namanya denial! Hehehe. Kalau dari hasil pemahaman saya terhadap buku yang menampar saya tersebut, alasan-alasan lain itu disebut persiapan. Yang membedakan parameter kesiapan dan persiapan adalah bahwa parameter kesiapan itu bersifat biologis yang bisa diukur ketika seseorang telah baligh dan sifatnya statis, sementara persiapan lebih bersifat hal-hal yang kontinyu di mana persiapan itu akan menjadi semakin matang seiring dengan tuntutan dan berjalannya waktu.

Ada lima item persiapan pernikahan yang disampaikan Ustadzah Herlini Amran, MA yang dirangkum dalam buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, yaitu: persiapan ruhiyah yang meliputi sikap mental; persiapan ilmiyah-fikriyah yang menyangkut pengetahuan, ilmu, dan pemahaman berumahtangga; persiapan jasadiyah yang menyangkut ikhtiyar terhadap penyakit yang menyangkut kesehatan reproduksi; persiapan maaliyah mengenai tuntutan berpenghasilan; dan persiapan ijtima’iyyah yang menyangkut kesiapan bermasyarakat.

Kenapa saya menyebut itu denial? Karena lima item yang menyangkut persiapan itu sebenarnya juga sedang dalam proses persiapan yang tidak memiliki threshold ukuran kesiapan. Bagaimana bisa dibilang tidak siap, jika pada kenyataannya kelima hal itu secara tidak sadar juga sudah dipersiapkan sejak dulu? Ya, itu cuma denial saya saja agar tidak terbebani dengan keharusan segera menikah (dengan orang yang belum tepat).

Persiapannya sedang on going, tinggal menunggu calon yang tepat di waktu yang tepat. Semoga bisa secepatnya, InsyaaLlah! 😉

Advertisements

4 comments

  1. Amien!
    semoga segera didekatkan ya ukhti 🙂

    1. aamiin.. terimakasih mas :mrgreen:
      semoga sampeyan segera menikah juga hehehe

  2. nice posting ^^ *speechless ceritanya

    1. eniwei. salam kenal. ^^ saya biasa ngeliat muncul di blognya faye. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: