alexitimia..


Alexitimia adalah sebuah buku yang saya beli bulan lalu. Buku ini muncul di rekomendasi buku baru bulan Mei 2012 di salah satu milis toko buku online dimana saya menjadi membernya. Judulnya terdengar asing. Awalnya saya tidak tertarik sih, karena saya kira itu buku psikologi – yang jelas nggak nyampe otak saya buat ngertiinnya – sampai saya menyentuh buku ini secara nyata di toko buku Tisera. Ternyata ini novel, ditulis oleh seorang pendiri organisasi karate pertama di Indonesia, INKAI. Tulisan dalam novel ini awalnya merupakan draft yang kemudian diteruskan oleh anak-anaknya ketika sang penulis, Koes Pratomo Wongsoyudo meninggal di tahun 2012 hingga kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku. Koes Pratomo Wongsoyudo ini ternyata bapaknya komedian Pandji Pragiwaksono itu loh. 😀

Seperti dugaan saya, karena buku ini ditulis oleh seorang lelaki yang hidup di era generasi sebelum saya, sudah dapat dipastikan bahwa bahasa yang digunakan agak kaku dan tentunya sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. So far sih, selama ini gaya penulisan dan gaya bahasa penulis yang saya suka ya Tere Liye, karena bahasa tulisannya sama sekali tidak merefleksikan gender penulisnya, keren. Eh, kok jadi salah fokus. 😐

Jalan cerita novel ini cukup menarik, menunjukkan bagaimana definisi Alexitimia dan indikasinya pada penderita yang merupakan tokoh utama dalam novel ini, bagaimana dia mengalaminya, juga bagaimana dia jatuh cinta dan mengungkapkan cintanya. Alexitimia, pada buku ini digambarkan sebagai ketidakmampuan mengungkapkan emosi melalui kata-kata, ketidakmampuan untuk mengenali perasannya. Penyakit ini menyerang bagian penting dalam hubungan interaksi antar manusia: ekspresi. Beruntungnya dia, karena pasangan hidupnya setia menemani dan mengurusnya dengan baik, hingga berupaya mencari tahu apa penyebab Alexitimia tersebut dengan mengorek informasi mengenai masa lalunya. Bagusnya lagi, kondisi keluarganya sangat ideal, saling mendukung dan terbuka satu sama lain. :3

“… hidup bukan apa yang kita pilih ataupun yang kita inginkan, melainkan apa yang kita dapat.”

Buku ini menunjukkan bahwa, pernikahan bukan soal membangun keluarga dengan memiliki anak dan menyaksikan mereka tumbuh dewasa dan menjadi sukses. Tapi pernikahan dalam buku ini adalah wujud komitmen dan kasih sayang suami dan istri dalam sebaik-baiknya keadaan maupun seburuk-buruknya keadaan masing-masing. Tentang bagaimana suami dan istri saling menerima kekurangan masing-masing dengan ikhlas dan tetap saling mencintai hingga ajal menjemput. Aaaah, mampukah saya menjadi setabah dan setegar itu kelak?

Cinta itu membutakan, namun cahayanya menguatkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: