mount bromo.. #traveling


*Sembari menyumpel hidung dengan tissue, saya mengetik draft blog ini* 😐
Hari Minggu lalu, tetiba otak random saya mengusulkan untuk mencicipi puncak Gunung Bromo. Kemudian saya mengajak partner random sejalan saya si Faye. 😆 Senengnya ngajak dia ini, mau segila apa, senekat apa juga, dia pasti mau kalo diajakin ngerandom. Hahaha. 😆 Awalnya, karena menghindari batalnya rencana berangkat ke Bromo ini, kami akan berangkat berdua saja ke Bromo hari Selasa pagi. Tapi kemudian ketika saya menanyakan ancer-ancer menuju Bromo melalui salah seorang teman saya, saya malah dilarang berangkat olehnya jika tanpa teman lelaki yang mendampingi. Akhirnya setelah mencari partner random kesana kemari, diputuskan hari Selasa dini hari, saya dan 5 orang teman berangkat menuju penanjakan satu Bromo. :mrgreen:
Kami berangkat menuju Bromo berdasarkan petunjuk pada peta yang diberikan oleh seorang adik tingkat saya di kampus.

Kami berangkat pukul 01.00 dini hari dari Malang. So far, perjalanan lancar meski sempat turun hujan malam itu. Karena kami trauma OT (omong tok) karena berkali-kali merencanakan trip satu angkatan tapi malah tidak pernah terlaksana, jadinya kami bersikeras tetap melakukan perjalanan walau apapun yang terjadi. 😡 Tiba di daerah Jabung, jalan mulai menanjak curam. Motor yang ditumpangi Faye dan Avent tetiba mati di tengah jalan tanjakan. Saya dan tiga teman lainnya pun harus berhenti demi membantu. Sejak dari sinilah, mulai muncul halangan dalam perjalanan kami. Berikutnya, kami nyasar di satu jalan bercabang. Jika berdasarkan peta yang ada sih bener aja kami belok ke kiri. Tapi kami malah sampai di tanah bersawah yang jalannya becek, turun curam, dan semakin mengecil, mungkin juga ujungnya adalah sungai. 😐 Akhirnya kami kembali ke jalan bercabang tadi kemudian mengambil jalan bercabang ke kanan dan ternyata arah ini lah yang benar. Fyuh~

Kami tiba di pos masuk Gunung Bromo pukul 04.00 tepat *tepat pada saat itu pula alarm di ponsel berdering keras gak tanggung-tanggung* 😳 Perjalanan menuju penanjakan memakan waktu setengah jam dari pos. Jalannya naik berliku-liku dan tertutup kabut tebal sekali. Jarak pandang mata normal saja hanya bisa mencapai maksimal 3 meter. Marka jalan juga hanya mampu terlihat sejauh 5 meter ke depan dengan bantuan lampu jauh motor. Beruntung saya tidak menyetir dan partner yang menyetir motor saya matanya normal, karena kalau tidak, sudah bisa dipastikan kacamata akan basah mengembun. Ditambah lagi dua motor bebek dengan kapasitas bensin yang sedikit mulai ketir-ketir karena fuel indicator menunjukkan bahwa bensin kami mulai sakaratul maut. Perjalanan ke penanjakan membuat kami diguyur hujan, sebenarnya bukan hujan sih, tapi karena saking tingginya gunung, kami menabrak awan sehingga terjadilah hujan. 😐

Tiba di penanjakan, udara semakin menusuk tulang. Beruntung saya membawa jaket berlebih. Untuk melindungi badan dari dingin, saya mengenakan jaket dobel 3, sampai badan jadi gendut. 😐 Teman-teman lain yang pada pede gak bakal kedinginan akhirnya takluk dan menyewa palto yang dijajakan orang-orang di lokasi parkir penanjakan. 😆 Sayang sekali, pagi itu sunrise yang kami tuju masih enggan bertemu kami. 😦 Saat pagi mulai beranjak siang, udara di penanjakan semakin dingin karena disertai angin. Pukul 07.00 kami turun untuk mencari sesuap kehangatan di warung-warung dekat lokasi parkir motor, seporsi indomie kaldu ayam untuk mengisi perut.

Pukul 08.00 kami turun dari penanjakan. Bergegas kami mencari penjual bensin eceran, karena kalau tidak kami bisa mendorong motor sampai menemukan peradaban. 😐 Beruntung motor saya Supra X 125 R, jadi cukup irit. Fuel indicator saya sih masih dua strip, masih cukup lah untuk sampai di Pasar Nongkojajar, namun sial bagi motor Amri dan Radika *padahal motornya Supra Fit*, fuel indicator sudah merah. Untung aja, di perjalanan menuju pos kami masih menemukan penjual bensin eceran, walaupun harganya 8000 rupiah per satu liter. 😐 Selama perjalanan turun dari Bromo, saya ketir-ketir karena rantai motor saya tetiba bunyi. Pas dicek, sepertinya rantainya agak longgar. Takut kalau-kalau tetiba rantainya copot di tengah jalan kan gak lucu. 😐

foto random yang saya ambil dari atas motor dalam perjalanan turun dari penanjakan


Kami pulang mengambil jalan yang berbeda. Dari Pasar Nongkojajar, kami belok kanan, melewati jalan yang berbeda dari arah keberangkatan kami. Saya sih kenal banget dengan jalanan ini, karena dulu sering lewat sini saat survey Bedhol Bhawikarsu tahun 2006. Rute yang kami ambil berakhir di belokan pertigaan arah Pasuruan-Malang. Perjalanan lewat arah ini memang memakan waktu lebih lama daripada rute berangkat kami, ya, kami tiba di Malang pukul 11.00, namun jalanannya lebih landai dan otomatis lebih hemat bensin, beb! 😛
Walau penuh perjuangan dan pengorbanan, setidaknya saya udah pernah nyicipin Gunung Bromo, dan ini merupakan pembuktian bahwa kami tidak OT (omong tok-red)!!! :mrgreen:

Advertisements

3 comments

  1. looh..foto-foto yang lain ndak ada?
    pengen ke sana lagi, mungkin sama istri #blush

    1. ada sih, tapi belum diupload. kemarin pas update blog fotonya masih kesimpen di tab-nya temen, belum ditransfer. hehehe

  2. ajakin saya ke bromo dong mbakkk…=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: