mendidik anak.. *eh


Pagi ini, seperti hari-hari biasanya, keluarga saya memiliki kebiasaan mendengarkan siaran dari salah satu radio Islam pada gelombang 100.5 FM (insyallah), namanya Radio Dakwah Islamiyah, disiarkan dari ruang takmir Masjid An Nuur, Jagalan, Malang – masjid ini juga merupakan salah satu masjid favorit saya setelah berkelana melakukan safari masjid πŸ˜›.Β  Kebiasaan ini dimulai sejak setahun yang lalu. Radio ini biasa menyiarkan tausiyah, murattal, nasyid tanpa musik, pelajaran Bahasa Arab, dan juga beberapa siaran motivasi agar umat Islam senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan ibadahnya dengan baik. Keluarga kami memiliki kebiasaan memperdengarkan gelombang radio ini dari pagi hingga sore, jauh lebih utama daripada menonton televisi atau mendengarkan lagu-lagu dari stasiun radio anak muda zaman sekarang – yang biasanya masih bandel dengerin radio gituan mah saya doang via radio di ponsel, itupun dengerinnya pake headset. πŸ˜›

Setiap hari Sabtu, insyallah setiap pukul 9 pagi kalau saya tidak salah, selalu disiarkan tausiyah mengenai kehidupan berkeluarga secara Islam. Tema pagi ini dan beberapa minggu ke depan adalah mengenai cara mendidik anak. Sembari memasak tadi pagi, saya mendengarkan sebuah kutipan kalimat yang disampaikan Ustadz Abdullah sebagai narasumbernya, mengenai sabda Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang cara mendidik anak, yang insyallah akan saya terapkan pada anak saya di kemudian hari.

Pada tujuh tahun pertama, jadikan anak layaknya seorang raja. Pada tujuh tahun kedua, jadikan anak layaknya seorang tawanan. Pada tujuh tahun ketiga, jadikan anak layaknya seorang teman.

Saya memang belum menikah, apalagi memiliki anak. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini saya tetiba pengen punya anak. Kalau bercandanya teman-teman sih karena ini efek usia 21 tahun, yang mana teman-teman saya juga tidak sedikit yang sudah menikah dan memiliki anak. Yakali. 😐 Mungkin juga keinginan saya *yang random* ini dikarenakan ketertarikan saya dengan metode-metode mendidik anak yang sudah banyak saya baca maupun saya dengar dari berbagai media informasi. Saya pengen nyobain mempraktikkan metode-metode tersebut. Hihihi. Yakali, dikira anak bisa buat percobaan. πŸ˜›

Menurut tausiyah yang saya dengar tadi pagi, untuk bisa mendidik anak dengan baik, orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya. Hal ini dikarenakan anak adalah mesin fotokopi paling handal di dunia. Dia bisa meniru apapun yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Meskipun para orang tua menganggapnya hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apapun. Justru hal itulah yang harus diwaspadai para orang tua. Anak-anak dapat menirukan apapun yang ada di sekitarnya, sehingga orang tua juga harus dengan cermat memilihkan lingkungan tumbuh kembang yang baik untuk anaknya. Orang tua juga harus memperhatikan setiap detail tingkah lakunya sendiri di depan anaknya. Apa yang orang tua lakukan, itulah yang akan diteladani oleh anaknya.

Saya tertarik juga dengan bagaimana seorang Ibu berusaha mengajari anaknya yang baru berusia dua atau tiga tahun agar bisa membaca, menulis, mengenal kosakata, belajar Bahasa Inggris, menghafalkan doa, hingga membaca Al Quran. Lucu dan tampak akan sangat melelahkan sepertinya. Lucu ketika si anak mau menurut dan semangat belajar. Lelah ketika si anak malah rewel. :mrgreen:

Jika saya sudah berkeluarga dan memiliki anak nanti, saya ingin memanfaatkan masa emas perkembangan otak anak saya di usia balita untuk belajar membaca, menulis, menghafal doa dan membaca Al Quran. Subhanallah gak sih, ketika kita membaca di media bahwa ada seorang anak kecil berusia 4 tahun yang sudah hafizh Al Quran. Siapa coba yang gak pengen punya anak seperti itu? 😑 Saya mau banget! Yah, walaupun saya sendiri juga belum menjadi hafizhul Quran sih. 😐 Kebanyakan dosa kali ya, jadinya hafalan-hafalan Quran yang dulu zaman SD menempel di kepala, sekarang melenyap satu demi satu. 😐 *eh* Astaghfirullah.

Advertisements

2 comments

  1. wow..!! hehehe…:)
    coba lebih dielaborasikan tentang cara mendidik anak ala Sayyidina Ali. insya Allah postingannya lebih bagus..hehehe

    1. udah lupa sm penjelasannya si ustadz sih. hihihi. yg diinget cuma bagian quote itu tadi. kapan2 kalo udah punya cukup referensi bakal ditulis lagi πŸ™‚
      anw, thanks for the advice..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: