#galaujilbab


Jilbab, hijab, kerudung, ketiga kata ini secara simple saja bisa dideskripsikan dengan menunjukkan selembar kain penutup kepala. Jilbab, hijab, kerudung itu apa? Ya, itu. Kain yang biasa dipakai perempuan muslim untuk menutupi kepalanya. Itu sih, gambaran gampangannya saja ya.

Namun terkadang ada orang yang tidak terima dengan hanya menyebut kain penutup kepala itu dengan istilah Jilbab. Katanya jilbab itu hanya pantas disebutkan untuk menyebut pakaian perempuan muslim yang menutup auratnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan pakaian yang longgar dan tidak berpotongan, serta menggunakan kain penutup kepala yang menutupi dada. Lalu hijab, ini lebih bersifat liberal. Pokoknya perempuan muslim yang menutup seluruh auratnya itu sudah bisa dikatakan berhijab. Sedangkan kerudung, ini lebih universal lagi. Bahkan perempuan yang bukan muslim pun bisa saja berkerudung, dengan hanya menutup kepalanya dengan kain penutup itu sudah bisa disebut berkerudung.
Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan sama sekali dengan istilah-istilah tersebut. Ketiganya memiliki bentuk wujud yang sama. Jilbab, hijab, kerudung itu ya seperti itu. Sebenarnya apa pun istilah untuk menyebutnya, tidak masalah. Yang perlu dipermasalahkan adalah implementasi dari khimar itu sendiri. (saya pakai kata khimar saja biar lebih diplomatis 🙂 )

Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Berdasarkan hadits riwayat tersebut, dinyatakan bahwa wanita yang sudah mencapai akil baligh seluruh tubuhnya harus ditutupi kecuali wajah dan telapak tangan. Hal inilah yang dinyatakan sebagai aurat perempuan. We got one point here. Perempuan yang sudah akil baligh wajib menutup seluruh auratnya.

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)-nya ke dadanya…’” (QS An-Nur : 31)

Berdasarkan Al Quran, surat An Nur ayat 31, disebutkan mengenai anjuran kepada wanita yang beriman agar menjulurkan khimarnya untuk menutupi dada. Oke, now we got the second point here. Inti khimar adalah kain tersebut harus menutup dada.
Berdasarkan dua pedoman yang telah disebutkan di atas, yang diwajibkan bagi perempuan muslim yang telah mencapai akil baligh adalah menutup seluruh auratnya dan mengenakan jilbab yang menutupi dada. Kedua pedoman tersebut diperkuat dengan adanya kalimatullah lain dalam QS Al-Ahzab

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Al-Ahzab: 33).

Tabarruj dalam hal ini yang dimaksud adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini merupakan perilaku zaman jahiliyyah.

Sesungguhnya, jika yang dibahas adalah definisi mengenai jilbab, hijab, kerudung tentu tidak akan ada habisnya. Karena setiap orang memiliki pandangan dan pendapatnya sendiri-sendiri mengenai hal ini.
Yang perlu ditekankan dalam hal ini sebenarnya adalah mengenai esensi dari menutup aurat.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLAH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)

Setiap anggota tubuh perempuan itu ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi laki-laki. Bahkan pada zaman dahulu, melihat telapak kaki perempuan saja sudah bisa membangkitkan gairah laki-laki. Itulah mengapa perempuan muslim dianjurkan untuk menutup auratnya. Tujuannya tidak lain tidak bukan seperti yang tercantum dalam QS Al-Ahzab : 59 bahwa agar perempuan muslim tidak mudah diganggu. Subhanallah, Segala Puji bagi Allah yang telah memberikan ketetapan Maha Bijaksana seperti ini.
Saya tidak mempermasalahkan istilah apa yang digunakan untuk menyatakan pakaian yang menutup aurat. Mau jilbab kek, hijab kek, kerudung kek. Saya lebih mempermasalahkan esensi pakaian menutup aurat yang digunakan sebagai bentuk upaya penjagaan diri perempuan muslim. Percuma jika mengenakan pakaian kurung tidak berpotongan tapi bahannya tipis atau dari bahan kaos yang malah membentuk tubuh saat penggunanya berjalan. Percuma jika mengenakan pakaian kurung tapi tingkah lakunya tidak mencerminkan bentuk upaya penjagaan diri perempuan muslim.
Silakan ditilik dari esensinya, bukan cuma sekedar penggunaan diksinya.
Wallahualam bishawwab.. 🙂

Advertisements

2 comments

  1. Apapun istilahnya, mau hijab atau jilbab, pokoknya wanita harus menutupi auratnya! 😡
    Ditambah rok, lebih manis. 😳

    1. nah!! 😀 sepakat sekali dengan menutup aurat plus rok 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: