renungan kartini Indonesia..


21 April 1879, tepat 132 tahun yang lalu, lahirlah seorang perempuan yang menjadi pelopor pergerakan perempuan di Indonesia. Dan sejak itu setiap tahunnya pada tanggal 21 April diperingati secara seremonial sebagai Hari Kartini. Sosok perempuan itu merupakan pejuang kesetaraan gender pertama di Indonesia. Ia memang bukan perempuan yang berjuang di medan perang seperti layaknya Cut Nyak Dien dkk, namun ia adalah perempuan yang berjuang mendobrak patron dan paham patriarki yang kental dalam budaya Jawa.
Bicara soal Kartini, pastinya kita akan langsung teringat akan istilah emansipasi perempuan. Kodrat perempuan yang lazim dikenal masyarakat adalah menikah, mengurus keperluan suami, melahirkan anak dan merawatnya hingga dewasa. Yah, bentuk kehidupan semacam ini memang akan memberikan kebahagiaan alami bagi wanita. Tak jarang pula lelaki di luar sana meremehkan perempuan karena menurut mereka perempuan tidak perlu meraih pendidikan tinggi, toh ujung-ujungnya ketika menikah yang diurus hanya suami dan anak.
Pernah pula suatu ketika dalam perbincangan saya dengan seorang teman lelaki, ia berpendapat bahwa menjadi perempuan itu enak, tidak perlu memikirkan kerasnya berjuang dalam kehidupan, tidak perlu meraih pendidikan tinggi, tinggal menunggu dipersunting lelaki, kemudian menikah, maka kebutuhan hidupnya pun akan dipenuhi suaminya. Saya mengiyakan pernyataannya bahwa menjadi perempuan memang enak, tapi saya menentang alasannya. Siapa bilang perempuan tidak perlu memikirkan kerasnya berjuang dalam kehidupan? Siapa bilang perempuan tidak perlu meraih pendidikan tinggi? Yah, jika saja setiap perempuan bernasib baik memperoleh jodoh yang diberi rezeki berlimpah oleh Allah, sehingga ia tidak perlu bersusah payah bekerja untuk membantu suaminya. Namun pada kenyataannya, tidak semua perempuan beruntung, bagaimana jika suaminya bekerja serabutan dan kena phk berkali-kali? Jika ia tak ikut memutar otak untuk mendapat penghasilan, bagaimana nasib keberlangsungan keluarganya kelak?
Perempuan tetap harus bisa berpikir mengenai kerasnya berjuang dalam kehidupan, terkait dengan kemampuannya dalam hal manajerial keluarga. Sehingga ia tidak menjadi perempuan yang hanya bisa menghabiskan uang suami untuk keperluan-keperluan yang bukan prioritas. Perempuan juga harus meraih pendidikan tinggi. Mengapa? Karena perempuan sebagai seorang ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya nanti. Jika seorang ibu berpendidikan tinggi, maka wawasannya pun akan luas, dengan demikian maka ia dapat dengan bijak memilih metode terbaik untuk mendidik anaknya, untuk membantu anaknya menghadapi permasalahan, hal ini akan memicu perkembangan akal dan moral anaknya. Terkait hal ini, perempuan memiliki andil besar dalam perkembangan bangsa bukan? Perempuan lah yang akan menentukan bagaimana karakter generasi penerus bangsa. Maka dari itu, para perempuan Indonesia menjadilah perempuan yang cerdas dan bermartabat, agar bangsa Indonesia dapat terus berkembang menjadi bangsa yang maju.


Bicara soal emansipasi, terkadang masih banyak yang salah kaprah. Segala hal terkait penyetaraan hak perempuan dan lelaki dituntut dengan alasan emansipasi. Pendapat itu memang keliru, namun tetap saja dipertahankan. Perempuan ingin memperjuangkan kariernya hingga ke puncak dengan melupakan kewajibannya sebagai ibu dan istri dalam keluarga, dengan alasan emansipasi. Perempuan ingin bisa pulang malam, alasannya emansipasi. Perempuan ingin menjadi ini itu, alasannya emansipasi. Padahal makna emansipasi wanita yang benar adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Hingga kini, kebanyakan perempuan Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum sadar, apalagi memiliki hak memilih dan menentukan nasib mereka sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural yang serba keliru.
Ibu Kartini dalam suratnya pun, sebenarnya bukan menuntut emansipasi wanita, namun menuntut persamaan hak lelaki dan perempuan dalam hal pengajaran dan pendidikan.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan  itu  menjadi  saingan  laki-laki  dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum  wanita,  agar  wanita  lebih  cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan  alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Semoga hal ini bisa menjadi renungan perempuan Indonesia. Mari kita maknai emansipasi dengan benar dengan tetap pula mengingat bagaimana kodrat kita sebagai perempuan. Kita berhak memilih dan menentukan nasib kita sendiri, namun kita tetap memiliki kewajiban kita sebagai perempuan yang kelak akan menjadi istri untuk suami dan menjadi ibu untuk anak-anak kita. 🙂
Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia!
Semoga kita bisa menjadi perempuan yang cerdas dan bermartabat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: