Pengmas KKM shift 1 #day 2


Hari kedua pengmas shift 1, tanggal 25 Januari 2011! Jadwal pelajaran siswa kelas 4 hari ini adalah olahraga, Agama, dan IPA, yang berarti bahwa jadwal mengajar saya pada hari ini hanyalah IPA saja. :mrgreen:
Kami memang datang sesuai jam masuk sekolah, karena kebetulan Alvita dan Wilda yang dijatah mengajar di kelas 5 ada jadwal mengajar pagi. Akhirnya saya, Jun, Ceri, dan Widya yang pagi itu berniat menganggur saja dengan leyeh-leyeh di kantor guru karena kelas 3 dan 4 sedang berolahraga. Kemudian tibalah pada jam ke 3 usai istirahat. Saya dan Jun masih tidak ada jadwal mengajar, begitu pula dengan Alvita dan Wilda sementara Ceri dan Widya sudah harus mengajar lagi di kelas 3. Sama seperti pagi sebelumnya, saya dan teman-teman yang tidak memiliki jadwal mengajar berniat menganggur saja di kantor guru. Namun ternyata, seorang guru menawarkan kami untuk mengisi kelas 6, karena kebetulan guru kelasnya berhalangan hadir karena harus mengikuti workshop di kabupaten. “Pelajarannya IPS kok Mbak, nanti suruh mengerjakan LKS saja, terus dikumpulkan.” ucap Bapak Tulus – guru agama sekaligus wali kelas 2. Setelah kami saling berpandangan cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk menerima tawaran itu – sekalian mengisi waktu mumpung tidak ada jadwal mengajar. Oiya, alasan kami menimbang-nimbang dulu untuk mengajar di kelas 6 adalah, karena konon kelas itu adalah kelas dengan level kenakalan siswa tingkat dewa! *lebay*Terlebih lagi, saat hari Senin kami mengikuti upacara, terlihat sesosok pemuda berdiri di jajaran siswa kelas 6. Dilihat dari proporsi tubuh maupun wajah cowok itu, sudah bisa dipastikan *maaf* jika dia adalah siswa yang sudah berulang kali tidak naik kelas. Wajahnya cukup sengak saat memandang orang lain dan lagaknya petentang-petenteng. Benar saja, cowok itu ada di kelas 6, dan saat saya lihat biodatanya di buku presensi, ternyata dia kelahiran tahun 1995 – yang seharusnya sudah kelas 1 SMA. MasyaAllah..!! 😯
Jreng! Jreng! Masuklah kami ke kelas 6. Yah, awalnya mungkin wajar saat kami masuk ke kelas dan mereka ramai. Saya dan teman-teman di MIN dulu juga mungkin gitu sih kalo ada ‘orang asing’ yang masuk ke kelas kami. Wajar lah yaa, namanya juga anak kecil. Kemudian saya tuliskan tugas untuk mereka di papan tulis.

“KERJAKAN LKS IPS HALAMAN 113, 114, 115, dan Latihan Soal. DIKUMPULKAN!”

Saya sertakan pula kata perintah sakti “DIKUMPULKAN!” yang mau tidak mau akan memaksa mereka untuk mengerjakan tugas sesegera mungkin. I hope so, yaa..
Tapi apa yang terjadi? Kami berempat mulek kewalahan karena mereka ramai. Jika saja ada pertanyaan yang menurut mereka sulit, langsung berjalan maju ke depan dan menanyakannya kepada kami – padahal jawaban pertanyaan itu sudah terpampang jelas pada teks yang terdapat di LKS! Bibir saya sampai jontor karena harus mengucapkan kalimat : “Semua jawabannya ada di LKS, dibaca dulu LKSnya, baru dikerjakan.” 😑 Untungnya mereka masih anak SD, coba kalo udah mahasiswa – macem praktikan saya biasanya – masih juga banyak tanya padahal jawabannya ada di buku mungkin udah saya jutekin tuh, bakalan saya sindir : “Punya inisiatif gak sih? Punya buku diktat buat apa? Google juga bisa diakses via ponsel” – Hahaha :mrgreen:
Oke, harus saya akui bahwa hari itu adalah puncak kepenatan saya mengajar! 😑 Sampai akhirnya waktu istirahat tiba, saya memaksa mereka mengumpulkan LKS bagaimanapun keadaannya, baik yang sudah maupun belum selesai dengan ancaman, mereka tidak boleh istirahat jika tidak mengumpulkan LKS. Yak, dan belum ada sedetik usai saya berbalik ke arah papan tulis, tiba-tiba… PRANG!! Kaca jendela belakang kelas 6 pecah! Seorang siswa – yang entah saya tidak tahu namanya dan sebenarnya tidak ingin tahu namanya – kabur lewat jendela, karena pintu kelas di jaga oleh Wilda sehingga mereka tidak bisa keluar masuk kelas seenaknya dan dia sudah kebelet istirahat. 😯

jendela kelas 6 yang pecah.. ckckck


Kami SHOCK!! Iyalah, bagaimana tidak? Kami bingung bagaimana harus mempertanggungjawabkan hal ini ke bapak ibu gurunya nanti? πŸ™„
Usai menumpuk LKS siswa kelas 6, kami buru-buru ngibrit ke kantor guru. Belum- belum kami bercerita, malah Bapak Tulus yang meminta maaf kepada kami atas kelakuan nakal siswanya. Jadi gak enak hati.. πŸ™„ Huff~
Jadwal mengajar selanjutnya adalah, IPA. Saya dan Jun sudah kehabisan tenaga buat mengajar akibat tenaga kami tersedot di kelas 6 tadi. πŸ™„ Akhirnya kami hanya menuliskan soal-soal saja agar dikerjakan oleh siswa kelas 4.
Huff~ Menjadi guru SD ternyata butuh kesabaran dan ketelatenan tingkat dewa yaa.. 😑

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: