Pengmas KKM shift 1 #day 1


Sebelumnya rombongan sie pengmas kami berangkat hari Minggu sore, tanggal 23 Januari 2010 ke lokasi lahan KKM Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ke XXXIII di Dusun Wringin Anom, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sesampainya di sana, di sore itu yang kami lakukan pastinya adalah semacam penyesuaian diri dengan kondisi hawa di sana. Dingin sih, namanya saja lereng pegunungan dan yang paling dingin disana pastinya adalah airnya!! Udah macem air es aja.. 😯
Saat itu tanggal 24 Januari 2010, saya bangun paling pagi di antara teman-teman pengmas lainnya. Pukul 04.00 WIB lebih tepatnya. Saya menyegerakan diri menyambar handuk dan alat mandi. Begitu sampai di kamar mandi dan menyentuh airnya, MAKK!! Kaki saya yang pertama menggigil kedinginan. Tapi akhirnya saya beranikan mandi saja, masa mau ngajar kok nggak mandi. Kan kasian murid-muridnya ntar. Hihi 😛
Pukul 06.45 usai sarapan, kami menuju lokasi sekolah tempat kami akan mengajar. Kami akan mengajar di SD Wringin Anom 1. Sekolahnya tidak besar memang. Dari luar saja tampak beberapa genteng sudah mulai runtuh dari atapnya. Hanya ada 5 kelas saja di sana. Siswa kelas 1 dan 2 ditempatkan di satu kelas secara bergantian. Saat kelas 1 pulang sekolah pukul 10, saat itulah kelas 2 masuk kelas. Jika saya bandingkan dengan sekolah SD saya yaitu MIN dulu pastinya sangat berbeda jauh. Dulu satu angkatan saya saja ada 5 kelas, dikalikan 6 jadi ada 30 ruang kelas, belum ditambah dengan ruang-ruang laboratorium yang bejibun, UKS, dan perpustakaannya. Saya benar-benar patut bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya selama ini. 🙂
Setibanya disana, kami langsung menuju kantor guru dan disambut oleh bapak kepala sekolahnya. Ternyata pagi itu ada upacara! Kami disuruh ikut mendampingi siswa siswi SD tempat kami mengajar di lapangan upacara. Sudah hampir tiga tahun saya tidak mengikuti upacara bendera. Rasanya nostalgia sekali saat ikut upacara pagi itu. Terutama ketika kami memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih. Uwaaa.. Nostalgia sekali! :mrgreen:
Saya mendapat jatah mengajar di kelas 4 bersama Jun. Hari itu jadwal mengajar saya adalah mata pelajaran IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Daerah. Dari ketiga mata pelajaran ini, yang paling bikin saya takut adalah Bahasa Daerah! Oh No! Mameen~ itu mata pelajaran yang sudah tak pernah saya sentuh sejak hampir 6 tahun yang lalu! 😯 Malamnya, saya dan partner mengajar saya, si Jun sempat belajar Bahasa Daerah, tapi karena kami memang tidak diberi buku paketnya, akhirnya kami mencoba mengingat-ingat aksara jawa saja. Itupun sudah banyak yang lupa. 🙄
Usai mengajar IPA, tibalah waktu istirahat. Kami keluar kelas dan menemukan jajanan aneh disana. Bakso sedotan! Haha. 😆 Jadi, ceritanya itu bakso yang dijual dimasukkan ke dalam plastik, kemudian diberi sedotan agar kuahnya bisa diminum. Saat kuahnya habis, isi baksonya kemudian di makan satu persatu dari ujung sisi plastik yang dilubangi. :mrgreen:

bakso sedotan - sepertinya enak. hehe


Tak lama kemudian, istirahat pun berakhir. Ternyata saya dan pertner saya tidak perlu mengajar mata pelajaran bahasa dan agama. Alhasil hari itu saya hanya mengajar 1 kali saja. Awalnya saya berniat masuk ke kelas 4, untuk menemani sang ibu guru yang mengajar. Eh tapi ternyata saya keburu ditahan oleh gerombolan anak kelas 2. Mereka mengajak kenalan, meminta tanda tangan dan nomor ponsel, kemudian merengek meminta saya mengajar di kelasnya. Saya bilang saja, maaf karena kami memang hanya diberi jatah mengajar kelas 3, 4, dan 5. Tangan saya sampai ditarik-tarik oleh mereka agar mau ikut ke kelasnya. Maaf yaa, adik-adik. 😳

foto anak2 kelas 2 yang polos2 banget.. hehe


Setelah anak-anak kelas 2 itu masuk ke kelasnya, saya pun masuk ke kelas 4 dan mengambil tempat di belakang kelas. Dan hari itu saya langsung beristighfar! Kenapa? Ada seorang anak yang bernama Mamat (konon dia anak ternakal nomor 2 se sekolah dan tidak naik kelas berkali-kali, padahal dia kelahiran tahun 1998 yang seharusnya sekarang sudah duduk di bangku kelas 1 SMP), dia berkali-kali naik ke atas meja untuk mengintip teman-temannya di luar lewat jendela yang memang cukup tinggi letaknya dari dasar lantai, dan berkali-kali ditegur oleh gurunya namun tetap saja tak bergeming. 😡
Hari itu cukup melelahkan sekali. Fiuhh~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: